Benarkah Berzikir Hanya Sunnah? Coba Tadabburi Ayat ini

Hukum dalam Islam ada Wajib, Sunnat, Mubah, Makruh dan Haram. Jika kita perhatikan pengertian Sunnah secara kontekstual bahwa sunnah itu merupakan suatu perbuatan yang jika dikerjakan berpahala namun jika tidak dikerjakan tidak apa-apa.

Berkaitan dengan Berzikir banyak ulama sepakat bahwa berzikir itu hukumnya sunnah, jika dikerjakan berpahala namun jika tidak dikerjakan tidak apa-apa, namun sebelum lebih jauh kita membahas tentang hukum berzikir ini mari kita simak beberapa ayat berikut:

Al-Baqarah:257 : Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Al-Ahzab: 41-44 : Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.

Az-Zumar Ayat 22 : Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

Dari ayat-ayat diatas bisa kita uraikan syarat-syarat agar Allah mengeluarkan kita dari Kegelapan kepada cahaya adalah:

  1. Ber-Iman
  2. Banyak-banyak berzikir
  3. Mensucikan Nama Allah (bertauhid) setiap saat (dari pagi hingga petang hingga pagi lagi)

dengan menjalankan ketiga poin diatas barulah Allah akan mengeluarkan kita dari kegelapan, jika tidak maka kita akan celaka besar dan dalam kesesatan yang nyata.

Jadi jika disimpulkan dari ayat diatas jika kita tidak berzikir bisa sesat dalam kegelapan, sekarang pertanyaannya apakah jika kita tidak berzikir masih tidak apa-apa? (sesuai definisi sunnah), tentu kita semua tidak ada yang mau sesat dalam kegelapan.

Tentunya berzikir bukan hanya sekedar menyebut saja tapi diiringi dengan mensucikan Nama Allah dari yang lain selain Dia, karena Allah juga berfirman:

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al Jaatsiyah: 23).

Ada sebuah kisah menarik tentang Burung beo dan Sakratul Maut:

Alkisah di sebuah pesantren, Seorang Ustadz memiliki burung sejenis Beo yang terlatih untuk berdzikir seperti: Assalamu’alaikm, Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, dan lainnya. Suatu hari, pintu kurungan terbuka dan burung itu terbang bebas. Sontak para santri mengejar burung milik guru mereka, sementara si burung terbang tidak terkontrol dan tertabrak kendaraan yang melintas dengan kencang hingga terkapar sekarat lalu meninggal.

Sang Ustadz terlihat berbeda usai burungnya mati, nampak sekali sedih hingga seminggu lamanya. Para santri yang melihatnya pun mengira Ustadznya bersedih karena burungnya mati, mereka berkata:
“Ustadz, jika hanya burung yang membuat ustadz sedih, kami sanggup menggantinya dengan yang bisa berdzikir juga. Tak perlu ustadz bermurung hingga sedemikian lamanya!”
Sang Ustadz menjawab:
“Aku bukan bersedih karena burung itu.”
Para Santri:
“Lantas kenapa ustadz?”
Sang Ustadz:
“Kalian melihat bagaimana burung itu sekarat setelah tertabrak?”
Para Santri:
“Ya, kami melihatnya.”
Sang Ustadz:
“Burung itu hanya bersuara KKKKAAKK, KKKKHHEEK, KKKKAAKK, KKKKHHEEK,,, padahal sudah terlatih berdzikir sedemikian rupa, namun saat merasakan perihnya sakaratul maut menjemput, hanya perih yang terasa. Lalu aku teringat diriku, yang setiap hari terbiasa berdzikir,
JANGAN-JANGAN NASIBKU SAMA SEPERTI BURUNG ITU, TAK KUAT MENAHAN SAKARAT LALU BUKAN DZIKIR YANG KUUCAPKAN.
Padahal burung itu tidak diganggu setan saat sakaratul maut, sedangkan manusia diganggu setan saat sakaratul maut. Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan kita mati, husnul khatimah ataukah su’ul khatimah?”
Para Santri pun terdiam dan membenarkan Sang Ustadz, dan mereka pun ikut murung memikirkan hal yang serupa dengan Ustadznya.

Pentingnya berzikir terbukti dari begitu banyaknya ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk senantiasa berzikir, bahkan ayat-ayat berzikir lebih banyak ketimbang ayat-ayat ibadah yang lain, seperti shalat, puasa, zakat dll.

Sering kali kita terjebak dengan hukum halal-haram, wajib-sunnah tanpa melihat lebih jauh lagi apa manfaatnya bagi kita jika kita kerjakan atau jika kita tidak kerjakan. Seperti merokok, sebagian ulama mengatakan merokok itu makruh, namun mari kita lihat lagi efek bagi kita jika kita merokok, tentu akan merusak tubuh sendiri. Begitu juga Berzikir, memang hukumnya Sunnah namun lihat lagi efeknya jika kita tidak berzikir, meskipun kita sudah beriman masih saja Allah sebutkan kita sesat. Naudzubillahi min dzalik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *