Ada sesuatu yang agak aneh dari Tanjiro Kamado.
Sejak awal Demon Slayer, kita tahu pekerjaannya bukan pekerjaan yang lembut. Ia adalah pembasmi iblis. Tugasnya jelas: menemukan iblis, melindungi manusia, lalu membunuh iblis tersebut. Tidak banyak ruang untuk perasaan, apalagi ketika yang dihadapi adalah makhluk yang baru saja membunuh manusia.
Tetapi justru di sinilah Tanjiro terasa berbeda.
Pada awal perjalanannya, ketika ia berhadapan dengan iblis yang tubuhnya sudah tidak berdaya dan kepalanya tertahan, Tanjiro mencari cara untuk membunuhnya. Ia melihat batu. Masalahnya, kepala iblis itu tidak bisa begitu saja dipenggal dengan pisau yang ada. Kalau menggunakan batu, ia harus menghantamnya berkali-kali.
Dan Tanjiro malah berhenti.
Bukan karena takut kepada iblis. Bukan karena ia ingin membiarkannya hidup. Tetapi karena ia membayangkan betapa sakitnya iblis itu jika kepalanya dihancurkan berkali-kali. Ia berpikir, adakah cara untuk membunuhnya dengan satu pukulan agar penderitaannya tidak semakin panjang?
Saking lamanya ia ragu, matahari akhirnya terbit dan iblis tersebut terbakar oleh sinar matahari. Urokodaki bahkan menangkap sesuatu yang dianggap aneh dari Tanjiro: ia masih memiliki belas kasih ketika berhadapan dengan iblis.
Bayangkan. Orang yang baru saja mencoba membunuh kita. Kita punya kesempatan untuk membalas. Tetapi yang pertama muncul di kepala justru, “Jangan sampai dia terlalu menderita.”
Aneh?
Mungkin.
Tetapi justru dari keanehan inilah kita bisa belajar sesuatu.
Bukankah Orang Bersalah Tidak Perlu Dikasihani?
Kita hidup dalam dunia yang agak berbeda dengan dunia Tanjiro. Kita tidak perlu membawa pedang Nichirin, tidak perlu pergi ke gunung mencari iblis, dan tidak perlu tidur sambil takut rumah kita diserang.
Tetapi ada satu hal yang sangat mirip.
Kita juga sering berhadapan dengan “orang yang salah”.
Hanya bentuknya berbeda.
Anak yang berbohong kepada orang tua. Pasangan yang mengecewakan. Teman yang mengkhianati kepercayaan. Bawahan yang membuat kesalahan. Atasan yang memperlakukan kita tidak adil. Tetangga yang membuat masalah. Orang yang berkomentar kasar di media sosial. Atau seseorang yang pernah menyakiti kita.
Dan biasanya, ketika seseorang melakukan kesalahan kepada kita, ada dua hal yang muncul bersamaan.
Yang pertama, kita ingin kesalahannya berhenti. Itu wajar.
Tetapi yang kedua kadang lebih berbahaya: kita ingin dia merasakan sakit karena sudah menyakiti kita.
Nah, di sinilah persoalannya.
Karena menghentikan kesalahan dan menikmati penderitaan orang yang bersalah adalah dua hal yang berbeda.
Kita bisa tegas tanpa menjadi kejam. Kita bisa memberi batas tanpa menghina. Kita bisa mengatakan seseorang salah tanpa harus menganggap dirinya tidak punya harga sebagai manusia.
Dalam bahasa yang sederhana, kita perlu membedakan antara masalah yang harus diselesaikan dengan orang yang harus dihancurkan.
Ini terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya tidak selalu mudah.
Awalnya kita ingin memperbaiki keadaan. Lalu perlahan berubah menjadi ingin memenangkan perdebatan. Awalnya ingin memberikan pelajaran. Lalu berubah menjadi mempermalukan. Awalnya ingin membuat orang bertanggung jawab. Lalu berubah menjadi ingin menghancurkannya.
Kita merasa sedang memperjuangkan prinsip. Padahal mungkin ego kita sedang memakai pakaian prinsip.
Rahmah Bukan Berarti Membenarkan Kesalahan
Ini bagian yang sering membingungkan.
Kalau kita bicara tentang belas kasih, sebagian orang langsung membayangkan kelembekan.
“Kalau terlalu berbelas kasih, nanti orang seenaknya.”
“Kalau orang salah malah dikasihani, kapan kapoknya?”
“Kalau semua dimaafkan, bagaimana keadilan?”
Pertanyaan-pertanyaan itu masuk akal. Karena rahmah memang bukan berarti membiarkan kesalahan.
Kalau seorang anak memukul adiknya, kita tetap harus menghentikannya. Kalau seseorang melakukan kejahatan, tetap ada konsekuensi. Kalau seseorang menyalahgunakan amanah, tetap harus dimintai pertanggungjawaban. Kalau seseorang menyakiti orang lain, kita tidak wajib berpura-pura bahwa tidak terjadi apa-apa.
Tetapi ada perbedaan besar antara mengatakan, “Perbuatanmu salah,” dengan mengatakan, “Karena kamu melakukan kesalahan, kamu tidak layak diperlakukan sebagai manusia.”
Yang pertama adalah ketegasan. Yang kedua bisa menjadi awal dari kekejaman.
Mungkin rahmah justru berada di antara keduanya.
Kita menolak kesalahannya, tetapi tidak kehilangan kemanusiaan ketika berhadapan dengannya.
Tanjiro memperlihatkan hal ini dengan cukup menarik. Ia tidak selalu lembut dalam arti pasif. Ia tetap membunuh iblis. Ia tetap bertarung. Ia tetap berusaha menghentikan mereka.
Tetapi ia tidak membiarkan kebencian menguasai cara ia melihat mereka.
Tanjiro Tidak Hanya Menunjukkan Rahmah Sekali
Menariknya, sikap ini bukan hanya muncul pada adegan awal ketika Tanjiro berhadapan dengan iblis yang terjebak di hadapannya.
Salah satu contoh paling jelas muncul ketika ia berhadapan dengan Spider Demon Mother di Gunung Natagumo.
Iblis tersebut telah menyebabkan banyak korban dan mengendalikan para Demon Slayer dengan benang. Jadi Tanjiro punya alasan untuk menganggapnya sebagai musuh.
Tetapi ketika Tanjiro menyadari bahwa iblis tersebut sudah tidak melawan dan sebenarnya justru ingin terbebas dari penderitaan serta kendali Rui, ia tidak menggunakan serangan yang kasar. Ia memilih teknik yang membuat kematiannya lebih damai.
Setelah itu, iblis tersebut mengalami kembali ingatan tentang kehidupan manusianya dan merasakan tatapan Tanjiro yang tidak berisi kebencian atau penghinaan.
Perhatikan sesuatu.
Tanjiro tetap membunuhnya.
Jadi belas kasih tidak membuat Tanjiro berhenti menjalankan tugas. Yang berubah adalah cara hatinya menjalankan tugas tersebut.
Ini penting.
Karena kadang-kadang kita berpikir bahwa menjadi baik berarti tidak boleh tegas. Padahal tidak.
Kita bisa berkata, “Saya tidak setuju dengan apa yang kamu lakukan,” tanpa berkata, “Karena itu, saya membencimu.”
Kita bisa mengatakan, “Ada konsekuensi dari perbuatanmu,” tanpa mengatakan, “Saya berharap hidupmu hancur.”
Ada perbedaan yang sangat besar di sana.
Ketika Orang Bersalah Sedang Berada di Titik Terburuknya
Ada satu adegan lain yang menurut saya sangat kuat: pertemuan Tanjiro dengan Gyutaro dan Daki.
Setelah pertarungan di Entertainment District, kedua saudara itu berada di ambang kematian sambil saling melontarkan kata-kata yang sangat menyakitkan. Daki mengatakan hal-hal yang merendahkan Gyutaro. Gyutaro membalas dengan kemarahan.
Dan Tanjiro, yang sebenarnya baru saja bertarung mati-matian melawan mereka, justru berusaha menghentikan Gyutaro agar tidak terus menyakiti Daki.
Kemudian Tanjiro berbicara kepada Gyutaro.
Ia tidak mengatakan bahwa semua perbuatan mereka baik. Justru ia mengakui bahwa dunia akan membenci mereka karena apa yang telah mereka lakukan.
Tetapi ia juga melihat sesuatu: mengapa mereka harus menghabiskan detik-detik terakhir hidup mereka dengan saling mengutuk?
Tanjiro bahkan melihat bahwa sebagian kata-kata kasar Gyutaro kepada Daki tadi sebenarnya tidak sesuai dengan isi hatinya. Ia melihat hubungan kakak-adik yang rusak oleh penderitaan.
Ini menarik.
Tanjiro tidak sedang berkata, “Kalian sebenarnya orang baik.”
Tidak.
Mereka telah melakukan banyak kejahatan.
Tetapi Tanjiro masih bisa melihat mereka sebagai manusia.
Bukan berbelas kasih kepada orang yang baik, tetapi berusaha tidak kehilangan belas kasih ketika berhadapan dengan orang yang telah melakukan keburukan.
Di sini ada pelajaran lain yang cukup dalam.
Kita sering menghormati orang karena statusnya. Karena jabatannya. Karena hartanya. Karena pengaruhnya. Karena prestasinya.
Tetapi bagaimana dengan orang yang tidak memiliki semua itu?
Apakah kita masih mampu memperlakukannya dengan baik?
Menghargai manusia karena ia manusia, bukan semata-mata karena rekam jejak atau apa yang bisa diberikannya kepada kita, membutuhkan kerendahan hati.
Masalah Kita: Kita Sering Lebih Senang Melihat Orang Kapok
Coba kita jujur sedikit.
Kadang-kadang kita tidak hanya ingin seseorang menyadari kesalahannya. Kita ingin dia kapok. Bahkan kadang-kadang kita ingin dia dipermalukan.
“Biar tahu rasa.”
“Biar dia merasakan sakitnya.”
“Biar semua orang tahu kelakuannya.”
“Bagus, akhirnya kena juga.”
Kalimat-kalimat seperti itu sangat manusiawi, apalagi kalau kita sendiri yang disakiti.
Tetapi di situlah hati kita perlu diperiksa.
Apakah kita sedang memperjuangkan kebenaran?
Atau sebenarnya kita sedang menikmati pembalasan?
Dua hal itu sangat tipis jaraknya. Dan mungkin justru karena tipis, kita sering tidak sadar ketika sudah melewatinya.
Kita awalnya ingin memperbaiki keadaan. Lalu berubah menjadi ingin memenangkan perdebatan.
Awalnya ingin memberi pelajaran. Lalu berubah menjadi mempermalukan.
Awalnya ingin membuat orang bertanggung jawab. Lalu berubah menjadi ingin menghancurkannya.
Kita merasa sedang memperjuangkan prinsip. Padahal mungkin ego kita sedang memakai pakaian prinsip.
Di titik inilah kita perlu belajar membedakan antara memperjuangkan kebenaran dan mempertahankan ego.
Kebenaran tidak selalu membutuhkan kita untuk menang.
Kadang kebenaran hanya membutuhkan kita untuk melakukan hal yang benar, kemudian selesai.
Ada Bedanya Membenci Perbuatan dan Membenci Manusia
Ini mungkin salah satu latihan hati yang paling sulit.
Kita perlu belajar mengatakan, “Perbuatan itu salah,” tanpa harus selalu melompat kepada, “Orang itu tidak berguna.”
Karena manusia jauh lebih kompleks daripada satu kesalahan yang pernah ia lakukan.
Orang yang hari ini berbohong mungkin pernah melakukan banyak kebaikan. Orang yang hari ini marah mungkin sedang membawa luka yang tidak kita ketahui. Orang yang hari ini gagal menjadi ayah yang baik mungkin tumbuh tanpa pernah memiliki contoh ayah yang baik. Orang yang hari ini memperlakukan kita dengan buruk mungkin sedang kalah oleh dirinya sendiri.
Ini bukan alasan untuk membenarkan kesalahan.
Tetapi memahami bukan berarti membenarkan.
Justru dengan memahami, kita bisa mengambil keputusan dengan lebih jernih.
Kalau seorang anak berbuat salah karena takut dihukum, pendekatan kita mungkin berbeda dengan anak yang sengaja menyakiti orang lain.
Kalau bawahan melakukan kesalahan karena ceroboh, berbeda dengan kesalahan yang dilakukan karena manipulasi.
Kalau pasangan melakukan kesalahan karena ketidaktahuan, berbeda dengan tindakan yang berulang dan disengaja.
Keadilan membutuhkan ketegasan. Tetapi ketegasan yang baik membutuhkan kejernihan.
Dan rahmah membantu kita agar kejernihan itu tidak digantikan oleh amarah.
Rasulullah ﷺ: Rahmah Tidak Membuat Seseorang Lemah
Di sini hubungan dengan Islam terasa sangat alami.
Allah menggambarkan kelembutan Rasulullah ﷺ kepada orang-orang di sekitarnya dalam QS. Ali ‘Imran ayat 159. Ayat tersebut mengingatkan bahwa karena rahmat Allah, Rasulullah ﷺ berlaku lemah lembut. Jika beliau keras dan berhati kasar, orang-orang akan menjauh.
Ayat yang sama juga berbicara tentang memaafkan, memohonkan ampun, bermusyawarah, lalu bertawakal setelah mengambil keputusan.
Perhatikan urutannya.
Lembut.
Memaafkan.
Tetapi tetap mengambil keputusan.
Jadi rahmah bukan berarti tidak punya sikap.
Justru seseorang bisa lembut sekaligus tegas. Bisa memaafkan sekaligus memasang batas. Bisa memahami seseorang sekaligus mengatakan bahwa perbuatannya salah. Bisa berbuat baik tanpa menjadi naif.
Dan lebih luas lagi, Al-Qur’an menyebut Nabi Muhammad ﷺ sebagai rahmatan lil-‘alamin—rahmat bagi seluruh alam.
Maka kalau kita mengaku ingin meneladani beliau, barangkali pertanyaan tentang rahmah tidak hanya muncul ketika kita sedang berhadapan dengan orang baik.
Justru pertanyaannya menjadi lebih berat ketika kita bertemu dengan orang yang membuat kita marah.
Masihkah ada rahmah di sana?
Meneladani Rasulullah ﷺ tentu bukan sekadar belajar berbicara lembut ketika suasana menyenangkan. Tantangannya justru muncul ketika ego kita terluka, ketika kita merasa benar, dan ketika kita merasa punya alasan untuk membalas.
Di situlah latihan hati sebenarnya dimulai.
Empati Bukan Berarti Kita Harus Setuju
Ini juga penting.
Empati bukan berarti, “Kalau saya memahami kamu, berarti saya setuju denganmu.”
Tidak.
Saya bisa memahami mengapa seseorang marah tanpa membenarkan caranya menghina.
Saya bisa memahami mengapa seseorang terluka tanpa membenarkan caranya menyakiti orang lain.
Saya bisa memahami masa lalu seseorang tanpa membebaskannya dari tanggung jawab atas masa kini.
Saya bisa memahami bahwa seseorang pernah menjadi korban tanpa menganggap semua tindakan yang ia lakukan setelah itu otomatis benar.
Karena memahami sebab tidak sama dengan membenarkan akibat.
Tanjiro menunjukkan hal yang mirip.
Ia bisa melihat bahwa iblis pernah menjadi manusia. Ia bisa merasakan penderitaan yang mungkin membentuk mereka. Tetapi ia tetap tahu bahwa mereka harus dihentikan ketika membahayakan manusia.
Rahmah tidak menghapus batas.
Rahmah membuat kita mampu menjaga batas tanpa kehilangan hati.
Mungkin Kita Tidak Perlu Menjadi Tanjiro
Tentu kita tidak perlu menjadi Tanjiro.
Kita tidak sedang diminta berkeliling mencari iblis.
Tetapi kita bisa belajar dari satu kebiasaan kecilnya: jangan terlalu cepat berhenti melihat manusia di balik kesalahannya.
Ketika anak kita berbuat salah, jangan hanya melihat anak yang menyusahkan. Lihat anak yang sedang belajar.
Ketika pasangan mengecewakan, jangan hanya melihat kesalahan. Lihat manusia yang mungkin juga sedang berjuang.
Ketika bawahan gagal, jangan hanya melihat angka yang rusak. Lihat orang yang perlu belajar bertanggung jawab.
Ketika seseorang menyakiti kita, jangan buru-buru menjadikan satu kesalahannya sebagai seluruh identitas dirinya.
Tentu ada keadaan ketika kita harus menjauh. Ada hubungan yang perlu diberi batas. Ada orang yang tidak aman untuk kita percayai. Ada kesalahan yang harus mendapatkan konsekuensi.
Rahmah bukan berarti kita harus membiarkan diri terus disakiti.
Tetapi bahkan ketika kita pergi, kita tidak harus membawa kebencian ke mana-mana.
Kita bisa berkata:
“Saya tidak bisa terus berada dalam hubungan seperti ini.”
Tanpa harus berkata:
“Semoga kamu hancur.”
Itu mungkin bentuk rahmah juga.
Bukan hanya kepada orang lain.
Tetapi kepada hati kita sendiri.
Karena Kebencian Juga Bisa Mengubah Kita
Ini mungkin bagian yang paling menakutkan.
Ketika kita terlalu lama berhadapan dengan keburukan, kita bisa perlahan menjadi mirip dengan apa yang kita lawan.
Kita marah karena orang lain kasar. Lalu kita menjadi kasar.
Kita benci karena orang lain suka mempermalukan. Lalu kita mempermalukan balik.
Kita kecewa karena orang lain tidak punya empati. Lalu kita kehilangan empati kepada mereka.
Kita merasa orang lain tidak manusiawi. Lalu tanpa sadar kita sendiri mulai memperlakukan mereka seolah-olah tidak manusiawi.
Bukankah ini sebuah kekalahan?
Kita mungkin berhasil memenangkan pertengkaran. Berhasil membalas. Berhasil membuat orang lain diam.
Tetapi kita kehilangan sesuatu di dalam diri sendiri.
Ini mungkin salah satu kekalahan yang paling mahal.
Karena orang yang kita lawan mungkin hanya menyakiti kita sekali. Tetapi kebencian yang kita simpan bisa membuat kita menyakiti diri sendiri berkali-kali.
Tanjiro menarik justru karena ia melawan iblis tanpa membiarkan kebencian kepada iblis mengambil alih hatinya.
Ia tetap tahu siapa yang harus dilindungi.
Ia tetap tahu siapa yang harus dihentikan.
Tetapi ia juga masih mampu melihat penderitaan.
Dan mungkin itu yang dimaksud dengan tetap menjadi manusia ketika berhadapan dengan sesuatu yang membuat kita ingin berhenti menjadi manusia.
Kembali kepada Tanjiro
Sekarang kita bisa kembali ke adegan awal.
Seorang anak berdiri di depan iblis.
Iblis itu berbahaya.
Iblis itu harus dihentikan.
Tetapi Tanjiro memegang batu dan justru berpikir:
“Kalau saya melakukan ini berkali-kali, dia akan sangat menderita.”
Pada saat itu, mungkin Tanjiro belum cukup tegas. Urokodaki bahkan melihat keraguannya sebagai masalah yang harus ia atasi.
Dan memang, Tanjiro harus belajar mengambil keputusan.
Ia harus belajar bahwa belas kasih tidak boleh membuatnya lumpuh.
Tetapi ada sesuatu yang sangat berharga dari kelemahan awal itu.
Ia tidak kehilangan kemanusiaannya hanya karena berhadapan dengan iblis.
Seiring perjalanan, Tanjiro belajar menggabungkan dua hal yang sering kita pisahkan:
ketegasan dan rahmah.
Ia bisa bertarung.
Ia bisa membunuh.
Ia bisa melindungi.
Tetapi hatinya tidak harus ikut menjadi keras.
Mungkin itulah pertanyaan yang sebenarnya ditinggalkan Tanjiro kepada kita.
Bukan:
“Apakah kita bisa mengalahkan orang yang salah?”
Tetapi:
“Ketika kita berhadapan dengan orang yang bersalah, apakah kita masih mampu menjaga hati kita agar tidak ikut menjadi buruk?”
Karena mungkin bentuk kemenangan yang lebih tinggi bukan ketika kita berhasil menghancurkan orang yang menyakiti kita.
Tetapi ketika kita berhasil menghentikan keburukan tanpa membiarkan keburukan itu pindah ke dalam diri kita.
Kita boleh tegas. Boleh kecewa. Boleh marah. Boleh menjauh. Boleh memberi konsekuensi.
Tetapi jangan terlalu cepat kehilangan rahmah.
Sebab kita pun manusia.
Dan kita pun pernah salah.
Kita pun pernah berharap kesalahan kita dipahami.
Kita pun pernah membutuhkan seseorang yang melihat kita bukan hanya dari satu keburukan yang pernah kita lakukan.
Maka mungkin pertanyaan akhirnya bukan lagi tentang Tanjiro.
Tetapi tentang kita.
Ketika anak kita salah, apakah kita masih melihat anak kita?
Ketika pasangan kita mengecewakan, apakah kita masih melihat manusia yang kita cintai?
Ketika bawahan kita gagal, apakah kita masih melihat manusia yang bisa belajar?
Ketika seseorang menyakiti kita, apakah kita masih mampu melihat bahwa dia adalah manusia yang juga sedang berjuang melawan dirinya sendiri?
Dan yang paling sulit:
Ketika kita benar dan orang lain salah, apakah kita masih mampu berbuat baik?
Mungkin di situlah rahmah benar-benar diuji.
Bukan ketika kita bertemu orang yang mudah dicintai.
Tetapi ketika kita berhadapan dengan orang yang membuat kita ingin berhenti mencintai.
Tanjiro mengajarkan satu hal sederhana:
Kita tidak harus membenarkan kesalahan seseorang untuk tetap berbelas kasih kepadanya. Dan kita tidak harus menjadi lemah untuk tetap lembut.
Sebab bisa jadi, kekuatan yang paling sulit bukan kemampuan untuk mengalahkan orang lain. Melainkan kemampuan untuk menjaga hati kita tetap manusiawi ketika sedang berhadapan dengan manusia yang sedang kehilangan kemanusiaannya.
Mungkin pada akhirnya, rahmah bukan tentang bagaimana kita memperlakukan orang yang pantas mendapatkannya.
Rahmah justru diuji ketika kita merasa seseorang tidak pantas mendapatkannya.
Dan mungkin di situlah kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
Apakah saya sedang memperbaiki kesalahan orang lain, atau sedang mencari alasan untuk membalasnya?
Karena ada saatnya kita harus menghentikan seseorang.
Ada saatnya kita harus pergi.
Ada saatnya kita harus memberi konsekuensi.
Tetapi jangan sampai dalam proses itu, kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga:
hati kita sendiri.
Wallahua’lam.


