Close

Tanjiro Itu Beruntung atau Memang Layak Mendapat Keajaiban?

Ada satu hal yang menarik dari Tanjiro.

Entah bagaimana, setiap kali kita merasa dia sudah mentok, selalu saja ada sesuatu yang terjadi. Saat melawan iblis yang jauh lebih kuat, dia menemukan cara baru. Saat tubuhnya sudah hampir tidak sanggup bergerak, dia masih bisa berdiri. Saat sebuah teknik terasa mustahil dilakukan, tiba-tiba Tanjiro menemukan celah.

Saat kita sebagai penonton sudah berpikir,

“Wah, selesai ini anak.”

Ternyata belum. Ada saja jalannya.

Kalau dilihat sekilas, Tanjiro ini seperti anak yang sangat beruntung. Seolah-olah ketika keadaan sudah benar-benar buntu, alam semesta berkata,

“Sudah, kali ini saya bantu sedikit.”

Tapi benarkah Tanjiro sekadar beruntung? Atau jangan-jangan, apa yang kita sebut sebagai “keajaiban” itu sebenarnya adalah hasil dari perjuangan panjang yang tidak kita lihat?

Ini menarik. Karena dalam kehidupan nyata pun kita sering melakukan kesalahan yang sama.

Kita melihat seseorang berhasil hari ini, lalu menyebutnya beruntung. Kita melihat seseorang mendapatkan kesempatan, lalu berkata,

“Memang sedang hoki.”

Kita melihat seseorang bisa melewati masalah yang bagi kita terasa mustahil, lalu menyimpulkan bahwa hidupnya memang lebih mudah.

Padahal kita hanya melihat bagian akhirnya. Kita sering menginginkan perubahan yang instan. Kita ingin hasil cepat. Ingin langsung naik level. Ingin langsung pintar. Ingin langsung berhasil. Ingin langsung berubah.

Padahal kesuksesan sejati sering kali menuntut perubahan cara berpikir yang tidak sebentar. Ada proses panjang yang tidak menarik untuk diceritakan. Ada kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Ada perjuangan sunyi yang tidak mendapatkan tepuk tangan. Ada masa ketika tidak ada satu pun orang yang melihat.

Dan mungkin, justru di situlah keberuntungan sebenarnya sedang dibuat.

Kita Melihat Keajaiban, Tetapi Sering Tidak Melihat Latihannya

Di awal perjalanan, Tanjiro bukanlah seorang pendekar hebat. Ia bukan Hashira. Ia bukan anak yang sejak awal sudah menguasai semuanya lalu tinggal menunggu potensinya keluar.

Ia harus berlatih. Ia harus menghadapi kesulitan. Ia harus jatuh. Ia harus mencoba lagi.

Bahkan untuk sampai ke tahap berikutnya dalam perjalanannya, Tanjiro harus melewati tempaan yang tidak ringan. Dan akhirnya ia mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya terasa mustahil.

Di sinilah kita sering salah membaca sebuah keberhasilan. Kita melihat hasilnya. Kita lupa prosesnya.

Dalam pembangunan budaya dan karakter, ada sebuah prinsip yang menarik: Fast is slow, slow is fast.

Yang tampak cepat belum tentu benar-benar cepat. Yang tampak lambat belum tentu benar-benar lambat.

Sesuatu yang dibangun secara instan bisa saja cepat terlihat, tetapi rapuh ketika mendapatkan tekanan. Sebaliknya, sesuatu yang dibangun perlahan, melalui tempaan dan pengulangan, mungkin tidak terlihat spektakuler di awal. Tetapi ketika waktunya tiba, fondasinya sudah kuat.

Ini persis seperti kehidupan kita. Kita melihat seseorang tiba-tiba pintar berbicara di depan umum.

“Wah, memang bakat.”

Kita melihat seseorang bisa mengelola bisnis dengan baik.

“Wah, memang hoki ketemu pasar.”

Kita melihat seseorang punya rumah, kendaraan, pekerjaan bagus, dan keluarga yang terlihat baik-baik saja.

“Beruntung banget hidupnya.”

Padahal mungkin ada bertahun-tahun ketika orang tersebut belajar diam-diam. Ada malam-malam ketika ia masih bekerja saat orang lain tidur. Ada kegagalan yang tidak pernah ia unggah ke media sosial. Ada keputusan sulit yang tidak pernah masuk Instagram Story. Ada doa yang tidak pernah diketahui siapa-siapa. Ada latihan yang tidak terlihat.

Dan sering kali, justru bagian yang tidak terlihat itulah yang membuat seseorang terlihat “beruntung” ketika waktunya tiba. Nasib sejatinya sering kali merupakan hasil dari cara berpikir dan upaya sunyi yang dilakukan berulang-ulang.

Keberuntungan Kadang Hanya Nama Lain dari Persiapan

Bayangkan dua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Keduanya tiba-tiba diberi kesempatan memimpin sebuah tim.

Orang pertama terlihat seperti mendapatkan durian runtuh. Ia belum pernah memimpin sebelumnya. Tetapi ternyata selama bertahun-tahun ia belajar mendengarkan orang. Belajar menyelesaikan konflik. Belajar mengendalikan emosi. Belajar mengambil keputusan. Belajar bertanggung jawab.

Orang kedua mendapatkan kesempatan yang sama. Tetapi karena selama ini tidak pernah mempersiapkan diri, kesempatan tersebut justru menjadi beban.

Di titik ini kita mulai melihat sesuatu. Kesempatan yang sama tidak selalu menghasilkan hasil yang sama. Karena kemampuan untuk memanfaatkan kesempatan ternyata sudah dibangun jauh sebelum kesempatan itu datang.

Maka kadang-kadang orang yang kita sebut beruntung sebenarnya hanya sedang memanen sesuatu yang sudah lama ia tanam. Kita melihat panennya. Kita tidak melihat sawahnya.

Tanjiro Tidak Selalu Menang Karena Lebih Kuat

Ini yang juga membuat perjalanan Tanjiro menarik. Dalam banyak pertarungan, persoalannya bukan sekadar siapa yang memiliki tenaga paling besar.

Tanjiro sering berada dalam posisi yang tidak ideal. Tubuhnya terluka. Napasnya terbatas. Lawannya jauh lebih berpengalaman. Kemampuan lawan tidak sepenuhnya ia pahami.

Tetapi Tanjiro berpikir. Ia mengamati. Ia mengingat. Ia mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Kemudian ia mencari kemungkinan yang masih tersisa.

Di sinilah Tanjiro menjadi cerminan manusia pemikir. Bukan sekadar manusia yang kuat secara fisik. Tetapi manusia yang menggunakan akal dan hati untuk memahami masalah, membaca keadaan, dan mencari jalan keluar ketika berada dalam himpitan.

Dalam bahasa Islam, kita mengenal konsep Ulil Albab: manusia yang tidak hanya memiliki akal, tetapi menggunakan akalnya untuk membaca kehidupan dan mengingat Allah.

Dan ini menarik. Karena ketika masalah datang, kita sering berpikir bahwa kita membutuhkan kekuatan yang lebih besar. Padahal kadang-kadang kita hanya membutuhkan cara berpikir yang lebih jernih.

Kita berkata: “Kalau saya punya uang lebih banyak, masalah selesai.” “Kalau saya punya jabatan lebih tinggi, masalah selesai.” “Kalau saya punya orang yang membantu, masalah selesai.” “Kalau saya lebih pintar, masalah selesai.”

Padahal mungkin masalah kita bukan karena kurang kuat. Mungkin kita belum melihat persoalannya dengan benar.

Tanjiro tidak selalu menjawab masalah dengan memukul lebih keras. Ia mencoba memahami. Dan mungkin itu salah satu kemampuan paling mahal dalam kehidupan: kemampuan untuk berhenti sebentar dan bertanya, “Sebenarnya apa yang sedang terjadi?”

Keajaiban Sering Datang Setelah Kita Sampai di Batas

Ada bagian perjalanan Tanjiro yang menurut saya sangat menarik. Ketika menghadapi situasi yang sangat ekstrem, Tanjiro dapat mengakses kembali pengetahuan dan pengalaman yang sebelumnya sudah tersimpan di dalam dirinya. Pelajaran dari masa lalu menjadi relevan justru ketika keadaan menjadi sangat sulit.

Ini sebenarnya sering terjadi dalam hidup kita. Ada nasihat orang tua yang dulu kita anggap biasa. Ada pelajaran guru yang dulu kita rasa tidak penting. Ada pengalaman gagal yang waktu itu terasa menyakitkan. Ada kebiasaan kecil yang dulu terasa membosankan. Ada doa yang dulu kita baca tanpa terlalu memahami maknanya.

Kemudian suatu hari hidup membawa kita ke sebuah masalah. Dan tiba-tiba:

“Eh… ternyata dulu saya pernah belajar ini.”

Ternyata tidak ada yang benar-benar hilang. Sebagian pelajaran hanya sedang menunggu waktunya digunakan.

Karena itu, anak yang tidak pernah diberi kesempatan menghadapi tantangan juga perlu kita pikirkan. Kita tentu tidak ingin anak sengaja dibuat menderita. Tetapi kita juga tidak ingin seluruh jalan hidupnya dibersihkan dari kesulitan.

Sebab anak yang selalu diselamatkan dari setiap kesulitan bisa saja tumbuh menjadi manusia yang tidak tahu bagaimana berdiri ketika suatu hari tidak ada yang menyelamatkannya.

Istilah “strawberry generation” sering digunakan untuk menggambarkan generasi yang terlihat baik dari luar, tetapi dianggap mudah rapuh ketika menghadapi tekanan. Tentu istilah ini tidak boleh kita gunakan untuk menghakimi satu generasi. Tetapi pertanyaannya tetap penting: Apakah kita sedang membesarkan manusia yang kuat, atau manusia yang hanya nyaman selama hidup berjalan sesuai keinginannya?

Kita Sering Menyebut “Mukjizat” Terlalu Cepat

Di sini kita perlu berhati-hati. Bukan berarti setiap keberhasilan pasti karena seseorang “layak mendapatkan keajaiban”. Dan bukan berarti setiap orang yang gagal kurang berusaha.

Hidup jauh lebih kompleks daripada itu. Ada orang yang sudah bekerja keras tetapi tetap gagal. Ada orang yang sudah berdoa tetapi masih menghadapi ujian panjang. Ada orang yang melakukan semuanya dengan baik tetapi hasilnya belum datang.

Karena itu, jangan sampai gagasan tentang ikhtiar berubah menjadi kesombongan.

“Saya berhasil karena saya lebih rajin daripada mereka.”

Tidak sesederhana itu. Ada faktor kesempatan. Ada lingkungan. Ada pertolongan orang lain. Ada keadaan yang tidak bisa kita kendalikan. Dan dalam keyakinan seorang Muslim, ada kehendak Allah yang berada di luar perhitungan manusia.

Keberhasilan yang kita raih seharusnya justru membuat kita semakin sadar bahwa kita bukan apa-apa tanpa pertolongan-Nya. Di situlah kesadaran Laa hawla wa laa quwwata illa billah menjadi sangat penting. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Maka mungkin bahasa yang lebih sehat bukan:

“Saya mendapatkan keajaiban karena saya layak.”

Tetapi:

“Saya berusaha sebaik mungkin. Ketika pertolongan datang, saya bersyukur.”

Ada perbedaan besar antara keduanya. Yang pertama mudah membuat kita merasa berjasa atas segala sesuatu. Yang kedua membuat kita tetap rendah hati.

Ikhtiar Tidak Menjamin Hasil, Tetapi Mengubah Diri Kita

Ini mungkin bagian yang paling penting. Kita sering bekerja keras karena menginginkan hasil. Belajar karena ingin nilai tinggi. Bekerja karena ingin uang. Berolahraga karena ingin tubuh sehat. Menabung karena ingin membeli sesuatu. Berdoa karena ingin masalah selesai.

Semua itu manusiawi. Tetapi ada manfaat lain dari ikhtiar yang sering kita lupakan: ikhtiar mengubah siapa diri kita.

Tanjiro tidak hanya menjadi lebih kuat karena bertarung. Ia menjadi orang yang berbeda karena perjalanan tersebut.

  • Ia belajar bertahan.

  • Belajar berpikir.

  • Belajar mengendalikan diri.

  • Belajar memahami orang lain.

  • Belajar menerima rasa sakit.

  • Belajar bahwa kekuatan bukan hanya tentang mampu menyerang.

Begitu juga dengan kita. Mengubah nasib dan menaikkan derajat kehidupan sebenarnya bukan hanya tentang mendapatkan sesuatu yang baru. Bisa jadi yang harus berubah terlebih dahulu adalah substansi isi kepala dan isi kalbu kita.

Cara berpikir berubah. Cara melihat masalah berubah. Cara melihat uang berubah. Cara melihat kegagalan berubah. Cara melihat orang lain berubah. Cara melihat diri sendiri berubah.

Itulah sebenarnya level up yang paling penting. Bukan sekadar bertambah penghasilan. Bukan sekadar naik jabatan. Bukan sekadar memiliki barang lebih mahal. Tetapi menjadi manusia yang lebih matang daripada diri kita yang kemarin.

Kita mungkin belum mendapatkan apa yang kita inginkan. Tetapi selama proses itu, kita bisa saja sedang menjadi manusia yang lebih sabar. Lebih disiplin. Lebih mampu menahan emosi. Lebih bertanggung jawab. Lebih tahu bagaimana memperlakukan orang lain.

Mungkin hasilnya belum datang. Tetapi manusianya sudah berubah. Dan itu bukan sesuatu yang kecil.

Jangan Bandingkan Bab 3 Kita dengan Bab 20 Orang Lain

Ini juga yang membuat istilah “beruntung” kadang berbahaya. Kita melihat seseorang berhasil pada usia 30 tahun. Lalu kita melihat diri sendiri yang masih berjuang. Kemudian kita berkata:

“Dia memang beruntung.”

Padahal kita tidak tahu perjalanan lengkapnya. Bahkan dalam Demon Slayer, kita melihat Tanjiro pada saat ia sudah berada di tengah perjalanan. Kita tidak selalu merasakan seluruh berat latihan, luka, ketakutan, kehilangan, dan proses berpikir yang membentuknya.

Kita hanya melihat Tanjiro berdiri. Padahal sebelum itu ada Tanjiro yang jatuh. Ada Tanjiro yang tidak tahu harus bagaimana. Ada Tanjiro yang kalah. Ada Tanjiro yang tubuhnya sudah tidak mau diajak bekerja sama. Ada Tanjiro yang harus belajar lagi.

Maka mungkin kita juga perlu berhenti membandingkan bab hidup kita dengan bab hidup orang lain. Kita sedang berada di halaman berapa? Itu lebih penting.

Kalau hari ini kita masih berada di halaman yang penuh latihan, jangan iri kepada orang yang sedang berada di halaman panen. Bukan berarti kita akan mendapatkan panen yang sama. Tetapi setidaknya kita sedang mengerjakan bagian kita.

Ada Keajaiban yang Baru Terlihat Setelah Kita Berusaha

Saya suka gagasan sederhana ini: Kadang-kadang keajaiban tidak datang sebelum kita berusaha. Keajaiban baru terlihat setelah kita berusaha.

Bukan karena usaha manusia bisa memaksa takdir. Bukan. Tetapi usaha membuat kita lebih siap melihat dan menggunakan peluang yang sebelumnya tidak kita sadari.

Orang yang tidak belajar mungkin melihat buku sebagai benda biasa. Orang yang belajar melihatnya sebagai pintu. Orang yang tidak pernah berlatih mungkin melihat kesempatan sebagai tekanan. Orang yang sudah mempersiapkan diri melihat kesempatan sebagai jalan. Orang yang tidak pernah membangun karakter mungkin menganggap kepercayaan sebagai beban. Orang yang sudah lama menjaga amanah melihat kepercayaan sebagai sesuatu yang harus dijaga.

Kesempatan yang sama. Keadaan yang sama. Tetapi manusia yang berdiri di dalamnya sudah berbeda.

Karena itu, menjadi orang yang proaktif juga penting. Bukan selalu menunggu kesempatan datang mengetuk pintu. Tetapi memperluas wawasan. Menambah kemampuan. Membangun hubungan baik. Mencari ilmu. Mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh.

Sehingga ketika peluang yang tidak pernah kita bayangkan datang, kita memiliki kapasitas untuk menjemputnya. Bukan karena kita lebih beruntung. Tetapi karena kita sudah lebih siap.

Tanjiro dan Pelajaran Tentang “Melewati Batas”

Ada satu hal menarik dari perjalanan Tanjiro: manusia sering kali baru mengetahui batas kemampuannya setelah ia benar-benar mencoba melewatinya.

Kita tidak selalu tahu batas kita sebelum kita mengujinya. Kadang kita berkata:

“Saya memang tidak bisa.”

Padahal mungkin kalimat yang lebih jujur adalah:

“Saya belum bisa.”

Dua kalimat ini berbeda. “Saya tidak bisa” menutup pintu. “Saya belum bisa” masih menyisakan jalan. Yang pertama adalah cara berpikir yang tetap. Yang kedua masih memberi ruang bagi pertumbuhan.

Fixed Mindset berkata:

“Saya memang seperti ini.”

Growth Mindset berkata:

“Saya belum sampai di sana.”

Dan mungkin banyak perubahan dalam hidup dimulai dari satu kata kecil: belum. Saya belum bisa disiplin. Belum bisa mengatur waktu. Belum bisa mengendalikan emosi. Belum bisa membaca dengan konsisten. Belum bisa mengelola uang. Belum bisa menjadi ayah yang sabar. Belum bisa menjadi pasangan yang baik. Belum bisa memimpin. Belum bisa menjadi manusia yang saya inginkan.

Belum. Bukan tidak akan pernah.

Inilah semangat itqan: mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, terus memperbaiki kualitas diri, dan tidak cepat puas hanya karena kita sudah keluar sedikit dari zona nyaman.

Tetapi Jangan Sampai Ikhtiar Membuat Kita Sombong

Ada paradoks lain yang menarik. Semakin keras kita berusaha, semakin mudah kita merasa bahwa keberhasilan sepenuhnya adalah hasil kerja kita sendiri.

Kita harus berhati-hati terhadap apa yang bisa disebut sebagai superstar syndrome. Perasaan bahwa semuanya bergantung kepada kita. Bahwa tanpa kita, dunia tidak akan berjalan. Bahwa keberhasilan adalah bukti bahwa kita lebih hebat daripada orang lain.

Padahal semakin jauh kita berjalan, justru semakin banyak hal yang kita sadari tidak berada dalam kendali kita. Kita tidak memilih dilahirkan di keluarga seperti apa. Tidak memilih siapa yang pertama mengajari kita membaca. Tidak memilih siapa yang menolong kita ketika kecil. Tidak memilih semua kesempatan yang datang. Tidak mengatur kesehatan kita sepenuhnya. Tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok. Bahkan kemampuan untuk berusaha pun adalah nikmat.

Maka setelah bekerja keras, barangkali yang paling tepat bukan membusungkan dada. Tetapi menundukkan kepala.

“Saya sudah berusaha. Selebihnya saya serahkan kepada Allah.”

Di situlah ikhtiar bertemu tawakal. Kita tidak pasif. Tetapi kita juga tidak merasa menjadi penguasa atas hasil. Kita bergerak sekuat yang kita bisa. Kemudian kita menyerahkan apa yang memang bukan milik kita.

Jadi, Tanjiro Itu Beruntung?

Mungkin iya. Tetapi keberuntungan Tanjiro tidak berdiri sendirian.

Di belakang satu “keajaiban” ada latihan. Di belakang satu kemampuan ada pengalaman. Di belakang satu keputusan ada kegagalan-kegagalan sebelumnya. Di belakang satu kemenangan ada banyak orang yang pernah mengajarinya. Di belakang kemampuan melihat solusi ada proses panjang untuk belajar mengamati.

Dan bahkan ketika ia berhasil melakukan sesuatu yang luar biasa, ia tetap harus membayar harga dari perjuangannya. Itulah yang membuat perjalanan Tanjiro terasa manusiawi. Bukan karena ia selalu kuat. Tetapi karena ketika ia lemah, ia tetap mencari cara untuk melangkah.

Dan mungkin ini juga pelajaran yang perlu kita bawa pulang. Jangan terlalu cepat menyebut orang lain beruntung. Jangan terlalu cepat menyebut diri sendiri tidak beruntung.

Kita tidak pernah tahu seluruh cerita seseorang. Kita hanya melihat hasil akhirnya. Yang kita tahu adalah bagian kita sendiri: belajar, berlatih, memperbaiki diri, meminta pertolongan, berdoa, mencoba lagi, dan ketika pintu terbuka, masuk dengan penuh syukur.

Karena boleh jadi sesuatu yang hari ini kita sebut sebagai “keajaiban” sebenarnya sedang dibangun oleh ikhtiar kita sejak bertahun-tahun lalu. Dan boleh jadi sesuatu yang kita kira sebagai “keberuntungan orang lain” sebenarnya adalah hasil dari perjuangan panjang yang tidak pernah kita lihat.

Tanjiro mungkin memang beruntung. Tetapi keberuntungan itu tidak datang kepada seorang anak yang hanya duduk menunggu. Ia datang kepada seseorang yang terus bergerak ketika keadaan mengatakan berhenti.

Mungkin bukan pertanyaan:

“Kapan keajaiban datang kepada saya?”

Tetapi:

“Apa yang sedang saya persiapkan hari ini, sehingga ketika kesempatan itu datang, saya siap menerimanya?”

Sebab kita tidak pernah tahu kapan pintu akan dibuka. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan ketika pintu itu terbuka, kita bukan lagi orang yang sama seperti kemarin.

Kita sudah lebih siap. Lebih matang. Lebih kuat. Lebih mampu berpikir. Lebih siap menghadapi kesulitan. Lebih rendah hati ketika berhasil. Dan, semoga, lebih dekat kepada Allah.

Mungkin pada akhirnya persoalannya bukan apakah Tanjiro beruntung. Mungkin persoalannya adalah: Ketika keajaiban datang mengetuk pintu hidup kita, apakah kita sudah menjadi manusia yang siap membukanya?

Wallahua’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a comment
scroll to top