Ada satu hal yang menarik dari Demon Slayer yang mungkin sering kita lewatkan.
Pada awal cerita, Tanjiro menghadapi iblis dengan kemampuan yang sebenarnya sangat jauh di atas dirinya. Ia harus berlatih keras, jatuh bangun, terluka, belajar teknik baru, memulihkan diri, lalu kembali bertarung. Semakin jauh perjalanan cerita, ia berhadapan dengan musuh-musuh yang bahkan lebih berbahaya. Tetapi anehnya, kita sebagai penonton sering merasa Tanjiro semakin mudah mengalahkan musuh.
Timbul pertanyaan: Apakah musuh-musuh Tanjiro makin lemah? Atau jangan-jangan, Tanjiro yang makin kuat?
Pertanyaan sederhana ini sebenarnya sangat penting dalam kehidupan kita. Sebab kita sering sekali berharap masalah menjadi lebih kecil, padahal mungkin yang harus menjadi lebih besar adalah diri kita sendiri.
Dulu Masalah Kecil Saja Sudah Membuat Kita Pusing
Coba ingat-ingat diri kita beberapa tahun yang lalu. Masalah yang sekarang terasa biasa, mungkin dahulu terasa luar biasa berat. Dulu dimarahi atasan bisa membuat kita tidak bisa tidur semalaman, dulu sedikit uang di rekening membuat kita panik, dulu anak melakukan kesalahan sedikit saja kita langsung marah, dulu ada orang yang tidak menyukai kita, kita pikir dunia sedang tidak adil, dulu satu kegagalan terasa seperti kiamat kecil.
Sekarang?
Belum tentu masalahnya lebih sedikit. Bahkan bisa jadi masalah kita jauh lebih banyak.
Tetapi anehnya, kita lebih tenang.
Mengapa?
Karena kita sudah belajar. Kita sudah pernah melewati masalah yang serupa, kita sudah tahu bagaimana rasanya gagal, kita sudah tahu bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan dalam satu malam, dan kita sudah tahu bahwa kadang-kadang jalan keluar baru terlihat setelah kepala kita tidak lagi terlalu penuh.
Masalahnya belum tentu mengecil. Kapasitas kita yang membesar.
Ini agaknya salah satu hukum sederhana kehidupan.
Kita Sering Salah Mendiagnosis Masalah
Ada orang yang ketika usahanya tidak berkembang berkata, “Pasarnya memang susah.” Ada orang yang pekerjaannya tidak kunjung selesai berkata, “Pekerjaannya memang terlalu banyak.” Ada orang yang sulit mendidik anak berkata, “Anaknya memang susah.” Ada orang yang terus bertengkar dengan pasangannya berkata, “Pasangan saya memang begitu.” Ada orang yang tidak mendapatkan kesempatan berkata, “Memang nasib saya begini.”
Bisa jadi semua itu benar.
Tetapi sebagai manusia yang ingin berpikir, mungkin kita perlu bertanya satu pertanyaan tambahan: “Apa yang sebenarnya belum cukup dari diri saya?”
Apakah ilmu kita? Apakah keterampilan kita? Apakah cara komunikasi kita? Apakah kesabaran kita? Apakah disiplin kita? Apakah keberanian kita? Apakah wawasan kita? Atau mungkin cara berpikir kita?
Di sinilah pentingnya menjadi manusia yang mau berpikir, bukan sekadar bereaksi. Karena kalau setiap masalah selalu kita salahkan kepada keadaan, kita akan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Katak Dalam Tempurung Tidak Pernah Merasa Tempurungnya Sempit
Saya teringat sebuah istilah yang sederhana: katak dalam tempurung.
Katak dalam tempurung merasa dunianya adalah seluruh dunia. Ia tidak tahu ada tempat lain, manusia lain, cara berpikir lain, ilmu lain, bahkan mungkin ada manusia yang jauh lebih maju daripada dirinya. Yang menarik, katak dalam tempurung tidak tahu bahwa ia berada di dalam tempurung. Ia justru mengira orang lainlah yang tidak tahu.
Bukankah ini juga bisa terjadi pada kita?
Kita bekerja di satu tempat bertahun-tahun, lalu menganggap cara kerja kantor kita adalah cara kerja terbaik. Kita belajar di satu tempat, lalu menganggap apa yang diajarkan kepada kita adalah seluruh pengetahuan yang tersedia. Kita bergaul dengan kelompok yang sama bertahun-tahun, lalu menganggap cara berpikir kelompok kita adalah standar dunia.
Padahal mungkin kita hanya sedang melihat dunia melalui sebuah tempurung.
Dan ketika tantangan datang, kita berkata, “Kenapa hidup saya sulit sekali?”
Padahal mungkin bukan hidup yang terlalu sulit.
Mungkin dunia kita yang terlalu sempit.
Ini sebabnya pertumbuhan diri tidak hanya berarti bekerja lebih keras. Kadang-kadang kita perlu belajar lebih luas, bertemu lebih banyak manusia, membaca lebih banyak, mendengarkan orang yang berbeda, mengakui bahwa ada orang yang lebih tahu, dan yang paling sulit, mengakui bahwa mungkin selama ini kita memang belum tahu.
Tanjiro Tidak Berhenti Belajar Setelah Bisa Menang
Tanjiro menarik karena ia tidak berhenti hanya karena sudah pernah menang. Satu kemenangan tidak membuatnya merasa selesai. Ia terus belajar dan terus ditempa.
Dalam perjalanan Demon Slayer, kita melihat pola yang berulang: Tanjiro menghadapi batas kemampuan, kemudian belajar melewati batas itu, lalu berhadapan dengan tantangan baru yang kembali memaksanya bertumbuh. Begitu seterusnya.
Ini sebenarnya mirip dengan kehidupan.
Ketika kita sudah bisa menyelesaikan satu jenis pekerjaan, datang pekerjaan yang lebih besar. Ketika kita sudah bisa mengelola satu orang, tiba-tiba kita harus mengelola sepuluh orang. Ketika kita sudah bisa mengurus satu anak, anak tumbuh dan masalah pendidikannya berubah. Ketika bisnis sudah mulai berjalan, persoalan berikutnya bukan lagi “bagaimana mendapatkan pelanggan”, tetapi “bagaimana menjaga kualitas”.
Hidup seperti tidak pernah kehabisan cara untuk mengatakan:
“Oke, sekarang kita lihat apakah kamu sudah benar-benar bertumbuh.”
Mungkin itu bukan hukuman.
Mungkin itu memang cara kehidupan menempa manusia.
Jangan Terlalu Cepat Menginginkan Hidup yang Mudah
Kita tentu boleh berdoa agar hidup dimudahkan. Tetapi jangan sampai seluruh definisi kebahagiaan kita adalah hidup tanpa tantangan. Sebab kalau tantangan selalu kita hindari, kapan kita memperbesar kemampuan?
Anak yang selalu dibantu tidak belajar mandiri. Orang yang selalu diselamatkan dari kesalahan tidak belajar bertanggung jawab. Orang yang selalu mendapatkan jawaban tidak belajar berpikir. Orang yang selalu hidup nyaman tidak selalu belajar menghadapi ketidaknyamanan.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua penderitaan itu baik. Tidak. Ada penderitaan yang harus dihentikan, ada lingkungan yang harus ditinggalkan, ada pekerjaan yang memang tidak sehat, dan ada masalah yang harus diselesaikan dengan cara berbeda.
Tetapi untuk masalah yang memang merupakan bagian dari amanah hidup kita, mungkin kita perlu berhenti sebentar dari pertanyaan, “Bagaimana supaya masalah ini hilang?” lalu menggantinya dengan:
“Bagaimana supaya saya menjadi manusia yang lebih mampu menghadapi masalah ini?”
Ini dua pertanyaan yang berbeda. Yang pertama mencari perubahan pada keadaan, sedangkan yang kedua mencari perubahan pada diri. Dan sering kali, keduanya memang perlu berjalan bersama.
“Saya Tidak Bisa” dan “Saya Belum Bisa”
Ada satu perubahan kecil dalam cara berpikir yang menurut saya sangat besar akibatnya.
Ganti kalimat “Saya tidak bisa” menjadi “Saya belum bisa.”
Kelihatannya hanya satu kata, tetapi kata “belum” membuka pintu.
Saya belum bisa disiplin, saya belum bisa mengatur waktu, saya belum bisa membaca banyak, saya belum bisa mengelola uang, saya belum bisa memimpin, saya belum bisa menjadi ayah yang sabar, saya belum bisa menjadi pasangan yang baik, saya belum bisa memahami anak saya, saya belum bisa mengendalikan emosi.
“Belum” berarti masih ada pekerjaan, masih ada latihan, masih ada ruang belajar, masih ada kesempatan berubah.
Inilah yang dalam psikologi modern sering disebut growth mindset. Tetapi sesungguhnya gagasannya jauh lebih tua daripada istilah tersebut: manusia tidak harus membekukan dirinya pada keadaan hari ini.
Kita bisa belajar. Kita bisa memperbaiki diri. Kita bisa bertobat. Kita bisa berubah.
Dan kalau hari ini kita masih belum mampu, jangan langsung membuat kesimpulan bahwa kita tidak akan pernah mampu.
Tetapi Jangan Sampai Menjadi Superstar
Ada jebakan lain.
Setelah kita belajar, bekerja keras, berhasil, lalu menjadi lebih kuat, kita bisa terkena penyakit baru: merasa bahwa semuanya terjadi karena diri kita sendiri.
Inilah yang saya kira dekat dengan apa yang sering disebut superstar syndrome. Kita mulai merasa, “Saya bisa karena saya hebat”, “Saya berhasil karena saya paling bekerja keras”, atau “Tanpa saya, semuanya tidak akan berjalan.”
Pelan-pelan kita lupa bahwa kemampuan untuk belajar juga merupakan pemberian Allah.
Kita tidak memilih dilahirkan dari keluarga seperti apa. Tidak memilih siapa yang pertama mengajari kita membaca. Tidak mengatur seluruh kesempatan yang datang. Tidak menguasai masa depan. Bahkan kemampuan untuk berusaha pun bukan sepenuhnya milik kita.
Maka semakin kuat seseorang, seharusnya semakin mudah baginya untuk berkata:
“Saya sudah berusaha. Tetapi saya tetap membutuhkan Allah.”
Di sinilah ikhtiar bertemu tawakal. Bukan pasrah sebelum berusaha, bukan pula merasa hasil sepenuhnya berada di tangan kita.
Kita bekerja sebaik mungkin. Kita belajar. Kita berlatih. Kita memperbaiki kesalahan. Lalu kita berkata:
Laa hawla wa laa quwwata illa billah.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Itqan Itu Bukan Berarti Tidak Pernah Capek
Ada satu lagi yang sering salah kita pahami.
Bekerja dengan baik bukan berarti harus selalu terlihat hebat. Itqan bukan berarti kita tidak pernah lelah. Itqan lebih dekat kepada kesungguhan mengerjakan amanah dengan sebaik-baiknya.
Kalau kita menjadi pedagang, ya jadilah pedagang yang jujur dan sungguh-sungguh. Kalau menjadi guru, ajarlah dengan baik. Kalau menjadi orang tua, didiklah anak dengan sungguh-sungguh. Kalau menjadi pemimpin, jangan hanya menikmati jabatan tetapi kerjakan amanahnya. Kalau menjadi bawahan, kerjakan tugas dengan baik meskipun tidak sedang diawasi.
Ini penting karena dunia modern sering sekali mengajarkan hasil instan.
Kita melihat seseorang berhasil, lalu ingin hasilnya. Kita tidak melihat bertahun-tahun latihan di belakangnya. Kita melihat orang pintar, lalu ingin kepintarannya. Kita tidak melihat buku-buku yang dibacanya. Kita melihat bisnis besar, lalu ingin omzetnya. Kita tidak melihat kesalahan-kesalahan kecil yang diperbaiki setiap hari.
Fast is slow, slow is fast.
Kadang-kadang yang terlihat lambat justru sedang membangun fondasi. Dan yang terlihat cepat justru sedang terburu-buru menuju masalah berikutnya.
Jangan Bandingkan Bab 3 Kita dengan Bab 20 Orang Lain
Ada satu masalah lain yang membuat kita sering merasa hidup tidak adil.
Kita membandingkan proses kita dengan hasil orang lain.
Kita melihat orang berhasil pada usia 30 tahun. Kita tidak melihat bab 1 sampai bab 29 hidupnya. Kita hanya melihat bab 30.
Lalu kita melihat diri sendiri yang masih berada di bab 5 dan berkata, “Kenapa saya belum seperti dia?”
Padahal mungkin memang belum waktunya.
Tanjiro juga tidak tiba-tiba menjadi Tanjiro yang kita lihat setelah melalui seluruh perjalanan. Ada latihan yang kita tidak lihat, ada kegagalan, ada luka, ada kehilangan, ada guru, ada teman, ada kesempatan, ada kesalahan, ada waktu panjang yang membuat kemampuan itu terbentuk.
Jadi mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk bertanya, “Kenapa dia sudah sampai sana?”
Pertanyaan yang lebih berguna adalah:
“Saya sekarang sedang berada di bab berapa, dan apa yang harus saya kerjakan di bab ini?”
Kalau bab kita masih bab latihan, ya latihan. Kalau masih bab belajar, ya belajar. Kalau masih bab membangun karakter, ya bangun karakter.
Jangan buru-buru ingin membaca halaman terakhir ketika halaman yang sedang kita jalani saja belum selesai.
Untuk melihat bagaimana gagasan tentang keberuntungan, persiapan, dan kesempatan ini bekerja dalam perjalanan Tanjiro, kita juga bisa membaca Tanjiro Itu Beruntung atau Memang Layak Mendapat Keajaiban?. Pertanyaannya bukan sekadar apakah Tanjiro beruntung, tetapi apakah kita sudah cukup siap ketika kesempatan datang.
Tantangan Tidak Selalu Mengecil
Ada satu hal yang saya suka dari perjalanan Tanjiro.
Semakin ia kuat, tantangan tidak kemudian menghilang. Justru tantangannya semakin besar. Tetapi ia juga semakin siap.
Ini sangat masuk akal.
Kalau seorang anak hanya diberi soal yang mudah, kita tidak tahu apakah ia benar-benar bertambah pintar. Kalau seorang pekerja hanya diberi tugas yang sama selama bertahun-tahun, kita tidak tahu apakah ia bertambah kapasitas. Kalau seorang pemimpin hanya berada dalam situasi yang nyaman, kita tidak tahu bagaimana kualitas kepemimpinannya ketika keadaan berubah.
Kadang-kadang kapasitas seseorang justru terlihat ketika persoalan naik kelas.
Dan mungkin kehidupan juga demikian.
Naiknya masalah belum tentu tanda kita sedang gagal. Bisa jadi itu tanda bahwa kita sedang diberi kesempatan untuk naik kapasitas.
Tentu kita tidak boleh mengarang-ngarang bahwa setiap masalah pasti merupakan “ujian untuk naik level”. Kita tidak tahu maksud Allah secara spesifik di balik setiap kejadian.
Tetapi kita selalu bisa memilih bagaimana meresponsnya.
Mau mengeluh terus? Atau mau belajar? Mau menyalahkan keadaan? Atau mau mencari akar masalah? Mau menunggu diselamatkan? Atau mulai mengerjakan bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita?
Di sinilah manusia pemikir—Ulil Albab—dibutuhkan.
Bukan manusia yang hanya bertanya, “Mengapa saya?”, tetapi manusia yang juga bertanya:
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi, apa yang bisa saya pelajari, dan apa yang harus saya kerjakan?”
Mungkin Nasib Kita Tidak Berubah Sebelum Isi Kepala Kita Berubah
Kita sering berbicara tentang nasib.
“Memang nasib saya begini.”
“Dia beruntung.”
“Saya kurang beruntung.”
“Orang lain punya kesempatan.”
“Saya tidak punya kesempatan.”
Tetapi bagaimana kalau sebagian perjalanan hidup memang dipengaruhi oleh apa yang ada di dalam kepala kita?
Orang yang tidak mau belajar akan melihat informasi baru sebagai sesuatu yang tidak penting. Orang yang mau belajar akan melihat informasi yang sama sebagai peluang. Orang yang takut mencoba melihat kesempatan sebagai risiko. Orang yang sudah mempersiapkan diri melihat kesempatan sebagai jalan.
Keadaannya mungkin sama.
Tetapi manusia yang berdiri di dalam keadaan itu berbeda.
Maka mengubah nasib, setidaknya dalam bagian yang memang berada dalam ikhtiar manusia, sering kali dimulai dari perubahan cara berpikir, kemudian perubahan kebiasaan, kemudian perubahan tindakan.
Kita belajar. Kita berlatih. Kita bekerja. Kita memperbaiki akhlak. Kita memperluas pergaulan. Kita mencari ilmu. Kita memperbaiki cara mengambil keputusan.
Dan setelah itu?
Tawakal.
Karena kita tetap bukan Tuhan.
Lalu, Apakah Tanjiro Beruntung?
Kalau kita melihat perjalanan Tanjiro, tentu ada banyak hal yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Ia bertemu orang-orang tertentu. Ia mendapatkan kesempatan belajar. Ia memperoleh pengalaman tertentu. Ada pertolongan yang datang.
Tetapi apakah cukup dengan mengatakan, “Tanjiro beruntung”?
Menurut saya, pertanyaan itu terlalu sederhana.
Karena keberuntungan yang kita lihat di ujung perjalanan sering kali berdiri di atas persiapan panjang yang tidak terlihat.
Dan dalam kehidupan kita pun demikian.
Kesempatan mungkin datang kepada banyak orang. Tetapi tidak semua orang siap ketika kesempatan itu datang. Informasi yang sama mungkin dibaca oleh seratus orang, tetapi hanya beberapa yang mengubahnya menjadi tindakan. Nasihat yang sama mungkin didengar banyak orang, tetapi hanya sebagian yang mengubahnya menjadi kebiasaan.
Maka jangan terlalu sibuk mengejar “keberuntungan”.
Persiapkan diri kita.
Karena kita tidak tahu kapan pintu akan dibuka.
Pembahasan tentang hubungan antara keberuntungan, persiapan, dan keajaiban ini juga menjadi salah satu benang merah dalam artikel Tanjiro Itu Beruntung atau Memang Layak Mendapat Keajaiban?.
Ikhtiar, Lalu Tawakal
Tetapi pada akhirnya, kita juga harus hati-hati.
Jangan sampai tulisan seperti ini membuat kita merasa seluruh hidup berada di tangan kita.
Tidak.
Kita berikhtiar, tetapi hasil bukan milik kita. Kita belajar, tetapi kecerdasan bukan milik kita. Kita bekerja, tetapi rezeki bukan milik kita. Kita merencanakan, tetapi masa depan bukan milik kita.
Kita berusaha memperbesar kapasitas, tetapi tetap saja kita membutuhkan pertolongan Allah.
Mungkin inilah keseimbangan yang sehat.
Ikhtiar membuat kita tidak malas. Tawakal membuat kita tidak sombong.
Kita bekerja seolah-olah harus memberikan yang terbaik, tetapi hati tetap tahu bahwa hasil akhirnya berada di tangan Allah.
Itulah sebabnya orang yang sungguh-sungguh berusaha seharusnya bukan semakin sombong. Semakin ia memahami perjalanan hidup, semakin ia menyadari betapa banyak hal yang berada di luar kendalinya.
Dan kesadaran itu justru membuat hati lebih tenang.
Kembali kepada Pertanyaan Awal
Jadi, apakah musuh-musuh Tanjiro makin lemah?
Tidak.
Justru perjalanan Tanjiro menunjukkan bahwa tantangan dapat tetap berat, bahkan menjadi semakin berat, sementara manusia yang menghadapinya terus ditempa menjadi lebih mampu.
Dan mungkin itu pula yang terjadi dalam hidup kita.
Hari ini kita mungkin sedang menghadapi sesuatu yang terasa terlalu besar. Jangan langsung menyimpulkan bahwa kita tidak sanggup.
Mungkin kita memang belum sanggup.
Dan kata belum itu penting.
Belum sanggup berarti masih ada yang bisa dipelajari, masih ada yang bisa dilatih, masih ada yang bisa diperbaiki, masih ada doa yang bisa dipanjatkan, masih ada pertolongan yang bisa diminta, masih ada tawakal setelah ikhtiar.
Maka mungkin pertanyaan kita bukan lagi:
“Kapan masalah ini menjadi lebih kecil?”
Tetapi:
“Kapan saya mulai menjadi lebih besar daripada masalah yang sedang saya hadapi?”
Bukan lebih besar dalam arti sombong, tetapi lebih besar dalam ilmu, lebih besar dalam kesabaran, lebih besar dalam keberanian, lebih besar dalam tanggung jawab, lebih besar dalam akhlak, lebih besar dalam kemampuan melihat akar masalah, dan lebih besar dalam ketergantungan kepada Allah.
Karena boleh jadi, seperti Tanjiro, kita tidak sedang menunggu musuh menjadi lemah.
Kita sedang ditempa agar menjadi lebih kuat.
Dan ketika suatu hari kita melihat masalah yang dahulu membuat kita gemetar, lalu sekarang kita bisa menghadapinya dengan lebih tenang, mungkin saat itulah kita sadar:
Masalahnya tidak pergi.
Kitalah yang sudah berubah.
Wallahua’lam.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah musuh Tanjiro menjadi lebih lemah sepanjang cerita?
Tidak. Musuh Tanjiro justru semakin kuat dan kompleks seiring perkembangan cerita. Perasaan bahwa Tanjiro semakin mudah menghadapi musuh lebih berkaitan dengan pertumbuhan kemampuan, pengalaman, teknik, dan mental Tanjiro.
Mengapa Tanjiro semakin kuat?
Tanjiro berkembang melalui latihan, pengalaman bertarung, pembelajaran dari orang lain, peningkatan kemampuan fisik dan teknik, serta kemauan untuk terus memperbaiki diri setelah menghadapi kegagalan dan batas kemampuannya.
Apa pelajaran Tanjiro tentang pertumbuhan diri?
Salah satu pelajaran pentingnya adalah bahwa masalah tidak selalu harus menjadi lebih kecil. Kita dapat menjadi lebih mampu menghadapinya melalui ilmu, latihan, pengalaman, disiplin, akhlak, kerja sama, dan tawakal.
Apakah orang yang tidak punya banyak privilege tetap bisa berkembang?
Titik awal memang memengaruhi perjalanan seseorang, tetapi titik awal bukan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan. Kemampuan dapat dibangun melalui belajar, latihan, pengalaman, dan pemanfaatan kesempatan yang tersedia.
Apa hubungan kisah Tanjiro dengan kehidupan sehari-hari?
Kisah Tanjiro dapat dibaca sebagai pengingat bahwa pertumbuhan tidak selalu terlihat dari berkurangnya masalah. Kadang tanda pertumbuhan justru terlihat ketika masalah yang sama tidak lagi membuat kita bereaksi seperti dulu karena kapasitas, ilmu, kesabaran, dan cara berpikir kita sudah berubah.

