Pilih Kawan Atau Kebenaran?

Setia kawan merupakan salah satu kepribadian yang berkarakter bagus, namun jika kita mendapat pilihan antara kebaikan dan kawan sering kali kita salah memilih karena tidak memiliki nilai rujukan yang benar. Bisa saja kawan sangat baik kepada kita, namun lihat lagi apakah iya juga baik kepada orang lain? apakah iya jujur, suka memaafkan, tidak suka bergunjing, tidak jaim? kita harus tau dengan benar mana orang baik mana yang bukan.

memilih teman baik

Hal ini telah dimisalkan oleh Rasulullah melalui salah satu hadistnya:

Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau menibeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harmznya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap“. (Riwayat Bukhari, kitab Buyuu’, Fathul Bari 4/323 dan Muslim kitab Albir 4/2026)

Jangan sampai kita menyesal dikemudian hari hanya karena salah memilih kawan, hanya karena iya peduli kepada kita sampai kita melupakan kebenaran yang hakiki, kita abaikan ajakan kebenaran. Allah berfirman

Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (Al Furqan:27-29)

Jadi bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang itu baik atau buruk? tentu harus ada nilai rujukannya yang memberikan kepada kita perbandingan dan petunjuk supaya bisa membedakan baik atau buruknya seseorang, Rasulullah Bersabda:

Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata : “Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia” (Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36).

Memiliki akhlak yang baik dalam hal ini memiliki makna yang sangat luas, kita tidak bisa mengatakan orang baik hanya karena ia sering memberi kita makanan, atau tutur katanya lemah lembut kepada kita, sementara disisi lain iya masih suka bergunjing membicarakan aib orang lain, suka ingkar janji, suka marah dan sebagainya. Bagaimana mungkin Allah Ridha jika satu sisi kita baik disisi lain masih suka berbuat dosa.

Semoga bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *